Monday, February 27, 2006

Kompensasi Dana Subsidi BBM dan

Herdiyan Maulana S.Psi
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah mada
Jogjakarta


Latar Belakang
Naiknya harga minyak dunia di kisaran 70 US Dollar per barelnya pada pertengahan tahun lalu tampaknya memiliki dampak yang cukup siginifikan bagi kondisi perekonomian bangsa, setidaknya ini tercermin dari keputusan pemerintah untuk menaikan harga BBM per 1 oktober lalu. Pemerintah menaikan harga dalam rangka mengurangi subsidi BBM, yang akibatnya harga bahan bakar ini merangkak naik. Salah satu dampak dari kebijakan ini, pemerintah mengelurkan keputusan untuk melaksanakan program bantuan langsung tunai kepada para warga yang masuk dalam kategori miskin.
Seperti diketahui bahwa kebijakasanaan ini dilakukan pemerintah dalam rangka menjaga stabilitas daya beli masyarakat miskin, sebagai imbas dari kenaikan harga BBM dan Minyak tanah. Asumsinya dengan melonjaknya harga bahan bakar minyak yang berdampak pada kenaikan biaya kebutuhan hidup masyarakat, akan menambah kesulitan bagi rakyat miskin yang selama ini penghasilanya tidak dapat memenuhi biaya tersebut, maka dengan adanya pemeberian dana ini diharapkan beban tersebut akan dapat dikurangi. Selain itu pelaksanaan kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan di Indonesia dari 16,7 % menjadi 13 %. Tetapi Permasalahnya sekarang ialah proses tersebut tidak semudah itu berjalan di masyarakat.
Diawali dengan proses pendataan warga miskin oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang ditindak lanjuti dengan pendistribusian kartu kompensasii bagi warga yang memenuhi kriteria kemisikinan yang telah ditetapkan oleh BPS. Dimana dari ke-14 kriteria miskin yang ditetapkan tersebut, kenyataan di lapangan seringkali tidak sesuai dengan aturan tersebut, bentuknya bisa berupa meningkatnya jumlah orang miskin pasca kenaikan BBM, baik yang memang secara kemampuan daya beli nya yang merosot atau yang memang sengaja “dimiskinkan” dengan adanya oknum petugas lapangan yang secara sengaja memasukan keluarganya kedalam daftar warga miskin penerima dana BLT. Hal ini kemudian dapat menyulut reaksi yang cenderung kontraproduktif dari warga lain yang merasa diperlakuakan tidak adil. Kemudian permasalahan berikutnya ialah dampak sosial-psikologis terhadap pemberian dana kompensasi yang bersifat unconditional cash transfer, dimana dana yang diberikan oleh pemerintah dalam pengunaanya tidak disertakan dengan jelas panduan pengunaan uang tersebut, gambaran-nya ialah, tidak ada larangan uang tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang sifatnya kurang berguna seperti rokok sampai dijadikan uang taruhan berman togel, bagi warga yang berpikiran pendek demi mendapatkan uang yang lebih banyak. Intinya tidak ada program yang memandu masyarakat dalam pengunaan uang sebesar itu. Masyarakat sepertinya dibiarkan lepas, terserah mau dibuat apa uang tersebut. Beberapa kasus yang terjadi di masyarakat menunjukan hal seperti itu, seperti kasus seorang warga di daerah Tangerang yang hanya beberapa saat menikmati uang 300 ribu, karena harus membayar biaya pengobatan dirinya di rumah sakit, lalu beberapa kasus yang terjadi di ibu kota dimana uang yang diterima sudah mulai habis dikarenakan sebagai persiapan lebaran, dengan membeli baju baru dan menyiapkan makanan. Uang yang seharusnya dijatah untuk kebutuhan selama 3 bulan, rupanya untuk hanya bertahan lebih singkat. Melihat fenomena tersebut, jangan-jangan maksud pemerintah untuk menjaga kestabilan daya beli masyarakat miskin, bergeser untuk hanya sekedar menjaga kestabilan sosial-emosi rakyat miskin untuk tidak bereaksi negatif terhadap kenaikan harga BBM.
Alokasi penggunaan dana kompensasi yang cenderung tidak efektif di masyarakat ini disebabkan oleh memang kurangnya pemahaman dan kemampuan manajemen warga miskin dalam mengelola uang tersebut, ditambah kurangnya sosialisasi pemerintah dalam memandu warga dalam menggunakan uang tersebut agar berdaya guna dan efisien dan efektif dalam penggunaan nya, sehingga jatah yang seharusnya dialokasikan untuk 3 bulan kedepan, akhirnya tidak harus habis di bulan pertama. Belajar dari beberapa pengalaman negara lainya menganai kebijakan pemberian dana kompensasi ini, maka akan dapat dilihat bahwa negara lain menyalurkan dana bantuan tersebut kepada warga nya dengan bersifat conditional cash transfer, dimana dana yang didapat warga tidak bisa dibelanjakan kecuali untuk kebutuhan-kebutuhan dasar untuk hidup, seperti makanan, kesehatan, maupun pendidikan.
Sebagai sebuah program, Bank Dunia menilai eksperimen subsidi atau bantuan langsung tunai (BLT) di Indonesia suatu hal yang tidak main-main. Ini adalah program BLT terbesar di dunia yang pernah ada karena menyangkut lebih dari 60 juta jiwarakyat miskin di negara dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa. Jadi, pantas saja jika sejak awal lembaga ini sudah waswas, apalagi jika mengingat nasib program-program kompensasi dana alokasi BBM sebelumnya. Coba kita tengok program-program bantuan bagi rakyat miskin, mulai dari RASKIN (Beras Miskin), Kartu Sehat, JPS (Jaring Pengaman Sosial), sampai BOS (Bantuan Operasional Sekolah) nampaknya belum banyak mengubah kondisi masyarakat miskin.
Kekisruhan dalam penyaluran subsidi langsung tunai bagi rakyat miskin sebagai kompensasi kenaikan harga BBM sekarang ini, tidak hanya menuai banyak protes dan kritik dari masyarakat dan pengamat. Bappenas sebagai penggodok konsep program dan Badan Pusat Statistik sebagai pendata dan pelaksana pun ikut gusar. Deputi Menneg PPN/Kepala Bappenas Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan Usaha Kecil Menengah Bambang Widianto sendiri mengakui, masih banyak kelemahan dalam pelaksanaan program BLT, mulai dari tahap pencacahan, penetapan kriteria kemiskinan, hingga pembagian kartu dan pembagian dananya.
Selain lemahnya sosialisasi dan tekanan luar biasa yang dihadapi petugas di lapangan, konsep BLT itu sendiri diakui disusun secara terburu-buru karena alasan waktu. Sementara, pada saat itu pemerintah juga tak mau terkesan seolah-olah tak berbuat apa-apa.
Di sini, baik Bappenas maupun BPS juga merasa diperlakukan tak adil. Pemberitaan selama ini, menurut mereka, cenderung hanya menyoroti masalah yang terjadi di lapangan, sementara 95 persen yang sudah berjalan baik dan dananya sudah dinikmati masyarakat luput dari perhatian.
Kesan yang muncul sekarang ini, menurut Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Sosial Rusman Heriawan, seolah-olah sudah terjadi kemelesetan target, penyimpangan, dan rekayasa data di lapangan dalam skala besar-besaran sehingga yang diperlukan adalah pencacahan ulang.
Padahal, menurut dia, yang tidak kena sasaran sebenarnya hanya sekitar 1 persen, sementara masyarakat miskin yang berhak mendapatkan BLT tetapi belum terdata sekitar 4 persen. Terhadap yang salah sasaran itu pun sudah dilakukan penarikan kembali kartu yang sudah telanjur diberikan. Untuk yang belum terdata, pemerintah masih membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pengaduan atau mendaftarkan diri hingga 31 Oktober nanti.
Dari semua data yang masuk tersebut, selanjutnya akan dilakukan verifikasi ulang untuk mengecek apakah benar yang bersangkutan memang layak atau tidak. Mengenai adanya BLT yang salah sasaran atau keluarga miskin (gakin) yang luput terdata, Rusman mengatakan, bisa jadi itu diakibatkan oleh adanya perbedaan persepsi dari para petugas pendata di lapangan.
Banyak sekali kericuhan yang terjadi di lapangan yang berkaitan dengan verifikasi jumlah keluarga miskin ini, seperti pad satu kabupaten di mana jumlah gakin yang terdaftar di BPS 22.000 kepala keluarga (KK). Ternyata, pada saat pendataan angka ini membengkak menjadi 48.000 KK, dengan tambahan gakin baru 26.000 KK. Ini tak masuk akal. Apa ya betul, petugas BPS begitu fatalnya bisa luput 26.000 KK, ujarnya.
Jika mereka semua itu dituruti, angka 15,5 juta KK yang dipatok sebelumnya akan melenceng jauh. Oleh karena itu, Rusman dan Bambang mengatakan pemerintah harus tegas. Selain menyangkut aspek keadilan dan besar alokasi anggaran yang disiapkan pemerintah, data direktori orang miskin hasil pencacahan sekarang ini akan menjadi dasar bagi pembayaran BLT tahap-tahap selanjutnya dan sebagai dasar dalam penyusunan data base orang miskin yang nantinya akan menjadi acuan bagi semua pemangku jabatan di negeri ini. Artinya, kalau data yang sekarang tak akurat, segala kebijakan atau program yang mendasarkan pada statistik ini juga tidak akan tepat sasaran juga.
Gugatan lain datang dari pengamat dan masyarakat yang selama ini difokuskan pada jumlah BLT besaran nominal Rp 100.000/KK/bulan. Angka itu dinilai sangat kecil dibandingkan kenaikan harga BBM dan sangat tidak memadai untuk mencegah meningkatnya angka kemiskinan akibat kenaikan harga BBM.
Menanggapi ini, Bambang dan Rusman mengatakan, tujuan dari program BLT memang bukan untuk mengentaskan kemiskinan, tetapi menjaga agar daya beli atau kesejahteraan masyarakat miskin tidak menurun karena adanya kenaikan harga BBM.
Angka Rp 100.000/KK/bulan diperoleh dengan menghitung dampak langsung dan dampak ikutan (multiplier effect) dari kenaikan harga minyak mentah terhadap kelompok miskin. Asumsinya, konsumsi minyak mentah kelompok miskin adalah 10 liter/KK/bulan. Dengan harga minyak tanah naik dari Rp 700 menjadi Rp 2.000 per liter, berarti pengeluaran keluarga miskin untuk minyak tanah naik Rp 13.000/KK/bulan. Itu dampak langsung kenaikan harga BBM.
Sementara dampak tak langsung berupa kenaikan harga-harga barang atau jasa lain diukur dari kenaikan angka inflasi. Asumsinya, kenaikan harga BBM menyebabkan inflasi naik menjadi 12 persen. Inflasi ini menyebabkan pengeluaran keluarga miskin meningkat sebesar 12 persen x Rp 600.000 (pengeluaran rata-rata keluarga miskin per bulan), atau Rp 72.000 untuk jumlah barang atau jasa yang sama dengan sebelumnya. Jadi kalau kita kasih Rp 100.000 per bulan sudah cukup karena kalau dijumlah dampak kenaikan harga BBM hanya Rp 85.000 (Rp 13.000 + Rp 72.000), ujar Bambang.
Kesannya, memang menjadi seperti sangat menggampangkan persoalan. Sebab, di lapangan kenaikan biaya yang harus ditanggung kelompok miskin akibat kenaikan harga BBM jauh lebih besar dari sekadar Rp 100.000. Bahkan, Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono di sela-sela suatu diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu mengakui, prediksi pesimistis BI tidak menutup kemungkinan inflasi tahun ini akan mencapai 17 persen.
Kemungkinan inflasi menembus 17 persen itu cukup terbuka, mengingat tidak sedikit dari harga atau tarif barang-barang dan jasa-jasa yang dikendalikan oleh pemerintah sekarang ini naik melampaui angka yang ditetapkan pemerintah.
Contoh paling mudah adalah tarif angkutan. Pemerintah menetapkan kenaikan tarif angkutan maksimal 20 persen, tetapi di sejumlah kota tarif angkutan naik hingga di atas 30 persen. Belum lagi harga-harga barang-barang atau jasa lain yang dilepas ke mekanisme pasar. Untuk minyak tanah sendiri, faktanya harga yang harus dibayar rakyat bisa jauh di atas Rp 2.000 per liter. Mengenai hal ini, Bambang mengatakan, tidak semua barang yang mengakibatkan inflasi itu dikonsumsi masyarakat miskin.
Perubahan Sosial di Masyarakat
Seperti apa yang diungkapan oleh Steven Vago, dalam bukunya Social Changes (2004) bahwa dalam melihat adanya suatu perubahan sosial yang erjadi, akan sangat membantu untuk menganalisanya bila kita terlebih dahulu memahami, apa yang berubah (what is changing?), pada level apa perubahanya, berapa lama proses perubahan itu terjadi, sebab terjadinya perubahan, dan dampak dari perubahan tersebut.
Naik nya harga minyak dunia pada kisaran 70 dollar Amerika per barel-nya merupakan alasan terkuat pemerintah dalam menetapkan kenaikan harga minyak dalam negri, seperti yang dikatakan oleh Mentri Kordinator Perekonomian Abu Rizal Bakrie, bahwa pemerintah tidak ada pilihan lain daam menyikapi kenaikan harga minyak dunia ini, kecuali dengan mengurangi subsidi minyak, yang berarti dengan menaikan harga minyak dalam negri. Dengan pertimbangan dana subsidi BBM dapat dialihkan kepada pemberian subsidi langsung kepada masyarakat, utamanya kepada warga miskin, melalui dana kompensasi BBM, atau Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Naiknya harga tentu saja direspon oleh pasar dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan sebagian harga barang-barang kebutuhan hidup lainnya. kenaikan ini sangat berdampak terhadap masyarakat, karena terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup individu. Dari sini penulis mencoba mengamati bahwa telah terjadi beberapa perubahan di dalam pola hidup masyarakat secara umum, dan di masayarakat menengah ke bawah pada khususnya (karena yang paling merasakan dampak kenaikan harga ini), diantaranya ialah: seperti apa yang dikutip oeh Vago dari Galles,dkk, bahwa perubahan dalam fungsi peran dan struktur di dalam keluarga banya diakibatkan dari adanya revolusi industri, yang salah satu dampak nya ialah terjadinya proses perpindahan masyarakat desa ke kota secara besar-besaran, atau urbanisasi. Dalam konteks di atas, saya melihat bahwa dengan naiknya harga BBM yang diikuti dengan naiknya harga kebutuhan lainnya dengan serta merta mengakibatkan dampak terjadinya pergeseran jenis pekerjaan yang ada di desa-desa dimana terdapat banyak para petani atau nelayan yang tidak sanggup lagi melakukan profesinya dikarenakan mahalnya ongkos produksi, seperti diketahui bahwa ketika petani bekerja di ladang, atau nelayan mencari ikan di laut keluarga mereka juga turut membantu pekerjaan mereka, istri membantu menanam padi, atau menyiapkan makan si suami, begitu juga dengan anak. Ketika pekerjaan di ladang atau di laut tidak lagi menjadi yang utama, otomatis fungsi pencari nafkah yang dipegang oleh si kepala keluarga yaitu suami, tidak lagi didominasi dirinya, istri nya bisa jadi mencari nafkah dengan pergi ke kota, bisa menjadi buruh, atau pembantu rumah tangga, begitu juga dengan si anak juga ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Disini juga terlihat telah terjadinya perubahan mendasar di dalam pola interaksi, fungsi, dan struktur di dalam keluarga. adanya inisiatif pemerintah untuk melaksanakan kebijakan pemberian dana kompensasi BBM sebesar 300 ribu/KK/ 3 bulan atau 100 ribu/kk/bulan telah menyulut adanya perubahan dalam sikap masyarakat menjadi lebih enggan untuk berusaha atau giat bekerja (walaupun mash diperlukan suatu studi berkelanjutan mengenai hipotesis ini) dikarenakan mereka dapat merasa tergantung dengan adanya pemberian secara Cuma-Cuma oleh pemerintah ini. tanpa harus berusaha keras, mereka akan di”gaji” 100 ribu perbulan oleh pemerintah. Dan bila pemerintah tidak memikirkan strategi ke depan untuk melakukan exit strategy dari pola ini, jangan-jangan dampak perubahan sosial akan menjadi lebih besar lagi. Jadi dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial yang terjadi akibat naiknya harga BBM dan penerapan kebijakan pemerintah soal dana kompensasi terjadi pada level masyarkat, khususnya pada level menengah ke bawah.
Menjawab pertanyaan kedua, mengenai berapa lama proses perubahan sosial ini terjadi, ada baiknya kita sedikit melihat ke belakang, tepatnya ketika di pertengahan tahun 1997 ketika badai krisis ekonomi menghantam Indonesia, dengan silih bergantinya pemerintahan, berbagai program yang ditujukan untuk membantu rakyat miskin di dalam menghadapi badai krisis ini banyak digulirkan, sebut saja program pendampingan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), jaring Pengaman Sosial (JPS), Beras Miskin (RASKIN), Bantuan dana Operasional sekolah (BOS), sampai yang terakhir adaah BTL dana kompensasi BBM. Bila dirunut pada tahun pola perubahan yang terjadi di masyarakat mulai terjadi sejak krisis moneter pada tahun 1997, dan itu terus berlangsung hingga sekarang.
Pertanyaan berikutnya ialah, karena apa perubahan sosial ini terjadi, Perubahan yang terjadi di masyarakat ini pertama disebabkan oleh faktor ekonomi, ini seperti apa yag diungkapkan oleh Lobao & Rulli, (dalam Vago 2004) bahwa sektor ekonomi telah memberikan konsekuensi-konsekuensi dan memainkan peran yang besar dalam terjadinya perubahan sosial di masyarakat. disini dilihat bahwa adanya kekuatan-kekuatan dari sistem perekonomian dapat merubah bentuk atau pola hidup seseorang dan nantinya suatu masyarakat, yang dapat mengakibatkan perubahan sosial. Salah satu aspek dari perekonomian ini ialah megenai aspek ketenaga kerjaan. seperti yang diungkapkan penulis di atas bahwa ketika terjadinya kenaikan BBM dan diikuti oleh naiknya harga-harga kebutuhan lain, termasuk ongkos produksi di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, telah memberi dampak terhadap bergesernya pola-pola bekerja pada masyarkat di tingkat ini apalagi kemudian ditunjang dengan adanya arus urbanisasi yang tinggi. hal ini dapat mengakibatkan beberapa hal, yng pertama ialah naiknya jumlah pengangguran, karena banyaknya masyarakat yang tidak lagi dapat bekerja, atau mendapat pehasilan tetap di satu sisi, ketika munculnya kondisi naiknya harga BBM, dimana banyak warga memunculkan alternatif-alternatif usaha lain ,atau pengunaan sumber bahan bakaruntuk keperluan produksi lainnya, dimana ini juga membutuhkan SDM-SDM untuk mengisi sektor tersebut.
Berikutnya, yang menjadi faktor terjadinya perubahan tersebut adalah Politik, dimana secara mendasar diartikan (Laswell,dalam Vago 2004) menyangkut adanya keputusan-keputusan pemerintah mengenai kebijakan-kebijakan publik. Ketika pemeritah memutuskan untuk menaikan harga BBM, yang diikuti kebijakan pemberian bantuan tunai kepada warga miskin sebagai kompensasi dari pengurangan subsidi ini, merupakan suatu langkah di dalam proses perubahan sosial. diawali dengan kenaikan BBM saja lalu pemberian subsidi langsung, maka dampaknya akan berimbas kepada sikap politik sebahagian masyarakat kepada presiden sebagai kepala pemerintahan yang memberlakukan kebijakan itu, dalam hal ini Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai presiden terpilih yang berasal dari partai demokrat. Terutama ini berkaitan dengan pemilu 2009 ke depan, dapat diprediksi akan ada perubahan konstelasi perpolitikan dan dukungan dari rakyat.
Kesimpulan
Naiknya harga BBM yang kemudian diikuti dengan penerapan kebijakan pemerintah untuk menyalurkan dana tunai langsung sebagai subsidi dana pengurangan BBM rupanya telah membawa dampak perubahan yang terjadi di masyarakat Indonesia. Dampak paling besar yang dialami oleh warga utamanya dari kenaikan harga BBM ini adalah warga dari kalangan masyarakat menengah kebawah, kenapa? Di satu sisi mereka yang berada di golongan menengah kebawah biasanya masih memiliki penghasilan tetap dari pekerjaannya, kebutuhan primer dan terkadang sekunder dapat dipenuhi, tetapi justru karena posisi ini lah mereka merasakan dampak yang paling besar, di satu sisi dengan naikknya harga BBM otomatis akan diikuti dengan kenaikan harga-harga kebutuhan hidup lainnya dan juga biaya transportasi, mereka tidak masuk di dalam kategori warga miskin yang berhak menerima bantuan, bila warga miskin dengan ketidakmampuannya memenuhi kebutuhan hidup mereka masih mendapat bantuan subsidi, sedangkan orang dari kalangan menengah ke atas tentu saja tidak terpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi bagi warga menengah ke bawah? Di satu sisi pemasukan mereka tidak bertambah, mereka tidak mendapat bantuan, tetapi biaya hidup mereka menjadi lebih besar.
Dalam menyikapi kenaikan harga BBM dan konsekuensi nya berupa kenaikan harga-harga kebutuhan lain, serta penerapan program BLT oleh pemerintah harus kita dapat sikapi secara bijaksana, dan objektif. Diperlukan evaluasi terus menerus dan penegakan hukum yang tegas dalam pelaksanaan program ini.



Daftar Pustaka

Vago, S. Social Change: 5th Edition..Prentice Hall.2004.London
www.BPS.go.id
Permasalahan Penyaluran Bantuan Tunai Langsung (BLT) , KOMPAS,edisi sabtu, 22 Oktober 2005

Wednesday, February 15, 2006

Andai Mereka Kenal Ibn Abdullah

Andai Mereka Kenal Muhammad ibn Abdullah....

“aku telah ditakut-takuti, dianiyaya, dan disakiti hanya karena aku menegakan ajaran Allah dan berjuang untuk jalan dan agama-Nya” (HR. Turmudziy dan Ahmad dari Anas RA)


Sulit rasanya untuk tidak ikut ambil bagian dalam menyikapi kasus mengenai dimuatnya karikatur kartun yang digambarkan sebagai Nabi Muhammad SAW di media massa Denmark, Jylland-Posten, yang kemudian diikuti media-media lainnya di eropa, amerika, australia, bahkan malaysia dan Indonesia (terakhir dimuat di media majalah “gloria”. Sebuah majalah terbitan surabaya yang diperuntukan untuk kaum nasrani, yang masih satu grup dengan jawa pos, setelah sebelumnya harian rakyat merdeka juga ikut memuat).
Saya sendiri terus terang baru mengetahui pada pertengahan jan 2006 kemarin, yah sudah cukup telat memang, karena gambar tersebut sudah terpublikasi sedari oktober 2005. tetapi memang puncak reaksinya baru dirasakan sekarang-sekarang ini. Bahkan dalam suatu berita di harian media indonesia (11 feb 06) dikatakan bahwa kejadian ini telah membawa denmark mengalami kondisi sosial politik internasionalnya yang terburuk sejak PD II. Kantor-kantor kedutaan besar Denmark di berbagai negara didemo, berbagai produk asal denmark diboikot, dan warga nya dilarang berkunjung untuk sementara waktu ke negara-negara muslim.
Di Indonesia sendiri, gelombang aksi demonstrasi ini sepertinya juga belum menunjukan surut. Berbagai ekspresi kebencian tampak ditunjukan oleh banyak warga Indonesia, mulai dari membakar bendera denmark, sampai membuka posko pendaftaran relawan mati untuk berjihad ke denmark. Pertanyaannya bagaimana seharusnya kita menyikapi ini semua???, objektif, bijaksana, dan adil tentu saja jawabannya......
tetapi sebelum lebih jauh saya bicara penjabaran dari sikap saya mengenai kasus ini, mungkin ada baiknnya bila kita runut dulu latar belakang kenapa kasus ini bisa terjadi... Dalam sebuah wawancara yang dilakukan sebuah media lokal, Del Speigel , Kare Bluitgen, lelaki berusia sekitar 40 tahunan, warga asli Denmark, seorang pengarang buku anak-anak yang cukup laris di Denmark. Tampaknya ia telah membuat gangguan dan merampas kenyamanan tidur para duta besar dan kepala pemerintahan negerinya. Dikatan di sana bahwa (Dialog Jum’at, 10 feb 05) semua bermula ketika Bluitgen ingin mengenalkan islam pada anak-anak negerinya (Denmark). Saat memulai pengarapan buku tersebut, ia mengalami kesulitan dalam menemukan ilustrasi Rasulullah Muhammad SAW. Islam melarang penggambaran nabinya, anmun karena denmark merupakan negara sekuler dan Bluitgen mempersepsikan bahwa dirinya bermaksud baik, maka proyek itu berjalan terus, yaitu dengan mengadakan semacam sayembara untuk memvisualisasikan Nabi Muhammad dalam bentuk kartun. Hasilnya....sabanyak 40 kartunis Denmark dihubungi, dan 12 diantara karyannya yang kemudian di muat pada september 2005 di Jyllands Posten, salah satu media massa besar denmark yang pada logo nya dihiasi gambar heksagram (yang saya persespsikan seperti lambang bintang david pada bendera israel) yang entah apa maksudnya.........
gambarnya beragam, mulai dari penggambaran orang dengan sorban dan bom yang sedang menyala sumbunnya di atas sorban, sampai ada gambar lelaki bertanduk setan................yang kesemuannya itu cenderung di gambarkan sebagai Nabi Muhammad.
Tidak lama berselang gelombang demonstrasi terjadi di Denmark. Tokoh muslim Kopenhagen Imam Ahmed Abu Laban menyatakan keberatannya, dan melayangkan surat protesnya ke PM Andres Fogh Rasmussen. Konon sebetulnya kondisi dalam negeri Denmark setelah itu cukup stabil, setelah 21 duta besar dikumpulkan dan mengadaan pembicaraan dengan para tokoh Muslim stempat, yang kemudia disinyalir koran itu pun meminta maaf pada muslim denmark.
Namun dua bulan kemudia, karikatur ini dimuat ulang di Norwefia, berturut-turut tanggal 1 dan 2 Februari koran-koran di Perancis, Jerman, italia, dan Spanyol memuat gambar tersebut. Yang akibatnya tentu saja sudah dapat diprediksi...yup kaum muslim sedunia bergolak, Iran, Irak, Afganistan, pakistan, Saudi Arabia, Yaman, Mesir, India, Malaysia, Indonesia, bahkan sampai Cina ( berita terakhir yang saya dapat, bahwa Imam masjid Kowloon, Muhammad Arshad, akan menggelar unjuk rasa, dimana diperkirakan lebih dari 3000 muslim Hongkong, dari lima masjid besar di wilayah Selatan cina akan turut serta). Bahkan sampai aksi sangat keras disampaikan oleh pihak Taliban, bahwa sebanyak 100 orang prajurit taliban akan turun gunung untuk melakukan serangan bunuh diri. Salah seorang ketuan Taliban juga mengatakan, bahwa pihaknya akan menyediaka hadiah bagi siapa saja yang berhasil membunuh orang-orang yang bertanggung jawab atas pemuatan kartun tersebut.
Wuiiiiih, kaya-kayanya bisa-bisa thesis hutington, bahwa akan terjadinya benturan peradaban (dalam hal ini dimaksudkan yatitu barat VS Islam) bakalan benar-benar terjadi......... (apa mungkin ini juga salah satu tanda-tanda akhir zaman???) Global Crisis..itu yang dikatakan BBC online mengenai kasus ini. Karen Armstrong (penulis buku The History of God) mengatakan bahwa pemuatan kartun ini merupakan bentuk pelecehan, karena kartun tersebut tidak dubuat berdasarkan fakta-fakta otentik, khusunya mengena tampilan fisik wajah nabi, dan justru ditakutkan lebih menggabarkan Islamic Phobia yang diindap sbagian warga barat. Lebih lanjut dikatakan nya melalui BBC, bahwa hal ini telah meruntuhkan bangunan pemahaman antara barat dengan islam yang selama ini tengah dibangun, dan ini bisa jadi hal yang berbahaya bagi barat setelah perang salib.
Kemudian mungkin ada beberapa pertanyaan bagi sebagian saudara-saudara muslim, atau non muslim lainnya, mengenai kenapa visualisasi nabi itu dilarang dalam islam??? Memang tidak ada nash dalam Alquran yang secara spesifik membahas mengenai ini, tetapi berdasarkan ijtihad dan pemahaman dari Al-quran mengenai tata etika bagaimana memperlakukan Rasulullah Muhammad SAW. Misalnya di Al-Hujurat ayat 2. dikatakan bahwa Allah melarang kaum muslim memanggil nabi seperti memanggil teman biasa. Visualisasi nabi juga dilarang karena memang secara khusus diberlakukan karena ingin menghindari terjadinya pegkultusan kepada nya, selain memang untuk menghindari pelecehan. Bahkan menurut Prof Dr Quraish Shihab mengatakan bahwa memvisualisasikan nabi dalam kondisi yang baik saja dilarang apalagi seperti yang kita lihat di Jylland Posten.....
Pengambaran ini juga sebenarnya juga berlaku untuk seluruh nabi..
Dan aksi protes pun berlanjut........... di indonesia aksi ini sampai membuat para staf kedubes dan konsulat Demark musti hijrah sementara ke singapore...saya sebagai umat islam tentunya merasa sangat marah dan geram ektika barat (baca dalam hal ini pers denmark) dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi melecehkan profil seorang Rasulullah Muhammad SAW. Kalau alasan nya kebebasan berekspersi sepertinya sangat menarik bila saya kutip tulisan bapak Ibnu Hamad (Dosen Ilmu Komunikasi UI) mengenai kartun nabi dan inferiotas barat (Republika, 17 Feb 05) bahwa barat yang selama ini mengagung-agungkan kebebsan sendiri, kerap jengah. Beberapa dekade lalu warga krisitiani, agama mayoritas barat, marah besar ketika john lennon mengklain ia dan grupnya lebih populer ketimbang Yesus. Ditambah lagi tatkala madonna memakai kalung salib di dadanya yang sedang dalam kondisi nude. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa kebebasan berekspresi yang digunakan barat sepertinya tidak lebih dari representasi sikap inferioritas barat. Di tengah kemajuan materialna barat rupanya mengindap semacam religious complex. Mereka sepertinya dendam terhadap agamnya sendiri. Ironisnya, rasa dendam ini mereka lampiaskan kepada agama lainnya. Sejarah mencatat bahwa semenjak abad ke 15, barat telah memerangi agamanya sendiri dan menonjolkan rasionalisme (yang juga mengantar mereka kepada pengukuhan paham sekuler sebagai paham berhala mereka). Sejak mereka berpikir model seperti itulah mereka mulai memberontak terhadap dogma gereja yang pada masa tersebut sangat mendominasi pola pikir dan aktifitas kehidupan masyarakat, mereka membenci agama mereka sendiri, mereka mengecilkan dan mengucilkan ajaran-ajaran nabi mereka. ( coba lihat Marx (agama adalah candu bagi masyarakat), lain lagi Freud (orang-orang yang beragama tidak bedanya dengan para pasien jiwa saya di RSJ Wina)
Barat tidak memiliki panutan spritual, khusunya jika dihubungkan dengan pilar peradaban yudeo-kristiani, HANYA ADA DUA KEMUNGKINAN NASIB PARA NABI DI TENGAH MASYARAKAT BARAT. KALAU TIDAK MEREKA RENDAHKAN SEBAGAI TUKANG BOHONG, MISKIN. ATAU MEREKA TEMPATKAN SETINGGI-TINGGINYA SEBAGAI ANAK TUHAN. Padahal panutan atau teladan adalah sangat penting dalam memantapkan sikap dan perilaku kehidupan manusia. Ia adalah role model yang menjadi rujukan ketika timbul masalah dan ideal type dalam berperilaku. Dan barat tidak punya ini, Yesus?? Tidak sepenuhnya sebagai panutan, ia lebih pada posisinya sebagai pemberi kabar, perintah. Dengan posisinya sebagai anak tuhan (dalam dogma Kristiani) ia terlampau jauh untuk dijadikan tauladan, atau ideal type bagi manusia biasa. Karena justru menempatkanya sebagai role model malah merendahkan dterajatnya dari posisi tuhan menjadi manusia biasa.
Dengan mengindapnya barat oleh gangguan religious complex (atau menurut saya lebih kepada religious envy) lantas mereka iri terhadap umat islam khususnya, yang memiliki ideal type dan role model yang ada pada diri seorang Muhammad SAW. Menurut teori Psikologi, bahwa orang yang mengalami ganguan kompleks ini lazimnya memiliki sikap dan perilaku mendua. Mereka selalu mencari segala macam cara untuk membenarkan tindakannya, dalam hal ini bila ada isu yang menyerang nabi (kasus kartun nabi) mereka akan sokong habis-habisan, mereka sama-sama melakukan koor atas kasus ini. Semakin keras rekasi ummat, semakin keras teriakan mereka. Coba lihat ketika denmark sudah mulai meredakan ketegangannnya, media-media eropa lainnya justru malah ikut-ikutan memuatnnya, yang kemudian diikuti amerika, australia (dan media-media lokal yang cenderung pro barat).
Standar ganda mengenai kebebasan berekspresi juga terlihat ketika yang disinggung kepentinga umat yahudi, mereka seperti kebakaran jenggot, coba lihat kasus film garapan Mel Gibson, The Passion of The Crist, mereka tuduh menyebarkan kembali faham anti semit.....
Lalu sikap kita sebaiknya gimana??? Aksi protes dan demonstrasi memang tidak bisa dihindari, tetapi tindakan anarkis juga tidak bisa ditolerir. Mari tunjukan sikap islam yang sebenarnya.... (TERINSPIRASI OLEH TULISAN SALAH SEORANG IKHWAN DI SALAH SATU BLOG MILIKNYA, BAHWA INILAH SAATNYA UMAT MUSLIM MENEKAN BARAT DENGAN BERSAP KRITIS TERHADAP SEGALA KEBIJAKAN NYA SELAMA INI TERUTAMA MENGENAI UMAT ISLAM YANG CENDERUNG BERAT TIDAK ADIL. BAGI UMMAT SENDIRI RUPANYA SELAIN AKSI-AKSI DEMO, TAMPAKNYA SEKARANG JUGA SAATNYA YANG TEPAT UNTUK KEMBALI MENUMBUHKAN PERASAAN CINTA KEPADA RASUL, DENGAN LEBIH MEMAHAMI AJARANYA, DAN MELAKSANAKAN SUNNAH NYA, MARI JADIKAN RASUL SEBAGAI TELADAN DAN PANUTAN DALAM SIKAP DAN PERILAKU KITA)berikut sebuah cuplikan kisah Rasulullah Muhammad ketika tidak lama berselang kemudian maut menjemputnya. (diambil dari EPOS, Andai Mereka Kenal Muhammad oleh Jamil Azzaini at Republika, Feb 10th 2005)
Di sudut pasar madinah, seorang pengemis buta yahudi, setiap hari nya selalu kepada setiap orang yang lewat dan mendekatinya, “wahai tuan jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang shir, dia juga pemecah belah keluarga orang. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya” sembari mengadahkan tangan, pengemis itu selalu meneriakan kata-kata kasar tersebut setiap harinya.
Namun, setiap paginya hampir selalu ada seseorang pria yang datang padanya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah katapun, pria misterius itu kerap menyuapkan makanan yang dibawa sembari mengelus rambutnya. Suatu ketika, pria yang memberikannya makanan tidak lagi singgah. Penegemis buta tersebut gundah, ia makin hari dirundung rindu dan bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan pria yang kerap mencurahkan perhatiann kepadanya.
Hingga pada suatu pagi ada seorang pria yang datang memberikan makanan padanya. Namun ketika pria itu mulai menyuapi, si pengemis buta yahudi itu mengardik, “siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa menyuapi makanan untukku”. “Aku adalah orang yang biasa” jawab orang tersebut. “tidak mungkin”, engkau pembohong. Orang yang biasa menghampiriku selalu membelai rambutku sebelum menyuapikku. Kemudian menghaluskan makanannya sehingga tidak sulit mulut ini untuk mengunyahnya. Dia menyuapiku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran” jawab sang penegemis.
Mendengar jawaban itu, pria tadi terhenyak. Mendadak hatinya luruh tidak dapat menahan air matannya. Ia tersedu, sambil berkata kepada pengemis buta yahudi tersebut. “ Aku adalah salah seorang dari sahabatnnya. Namaku Abu Bakar. Orang mulia yang biasa memberimu makan itu telah meninggal dunia. Dia adalah Muhammad, Muhammad kekasih Allah.
Seperti disambar petir, telinga tertampar, batin pengemis tercabik kelu. Pengemis buta yahudi terperangah sesal. Tubuhnya bergetar. Air matanya tumpah, nadanya serak terisak.

Banyak bintang yang berkelip-kelip
Ada bulan yang bercahaya lembut
Ada dian di pondok petani
Dan ada listrik di tengah kota
Tetapi matahari Cuma satu
Cahayanyamengatasi semua
Dialah Muhammad SAW
Maha pemimpin, maha manusia...

( Dan Goethe, penyair Jerman)

Friday, January 20, 2006

Jogja and The Social Changes

Bergesernya Citra Yogyakarta Sebagai Kota Pendidikan : Sebuah F

Bergesernya Citra Yogyakarta Sebagai Kota Pendidikan ? :

Sebuah Fenomena Perubahan Sosial.

Herdiyan Maulana S.Psi/2277

Fakultas Psikologi

Universitas Gadjah Mada


Pendahuluan


Apa yang terlintas di benak banyak orang ketika Berbicara mengenai kota yogyakarta di sekitar tahun 1980 – 1990 an?, maka mungkin yang terlintas di benak banyak orang adalah yogyakarta sebagai kota kesenian, tempat dimana beragam corak hasil kreasi seni dan ragam seniman ada disini, yang gemanya sampai melewati batas negara, yogyakarta juga dikenal sebagai kota pendidikan, kota tempat berdirinya beragam perguruan tinggi, dengan ragam keahlian ilmu yang ditawarkan, Tidak saja dilihat dari banyak nya dari lembaga pendidikan yang ada di kota ini, tetapi juga para “Pendidik”an nya yang terkenal dengan kedisplinan dan penuh dengan nilai-nilai luhur adat ketimuran dan kota tempat dimana banyak hidangan lezat dengan ke-khasnya masing-masing, tetapi mungkin yang paling lekat dalam benak banyak orang tersebut adalah, kaitannya yogya sebagai kota budaya, kota dimana budaya jawa-nya yang masih teguh dipegang oleh banyak warganya, budaya sopan santun, serta etika berperilaku nya yang sangat diperhatikan yang sepertinya sudah menjadi trademark kota yang memiliki penduduk sebanyak 3.121.701 jiwa pada tahun 2000 ini.

Dilihat pada karakteristik masyarakat Yogyakarta mempunyai beberapa karakteristik yang membedakan dengan masyarakat dari daerah lain, terutama karena sangat diwarnai kehidupan berbudaya yang melekat dalam perkembangan sosial masyarakat. Di antara karakteristik sosial dari masyarakat Yogya yang menonjol adalah sikap toleransi yang tinggi, menjunjung nilai-nilai budaya, norma-norma sosial serta moral.

Dengan laju pertumbuhan penduduk Yogyakarta sebesar 0.72 % per tahun, yogyakarta termasuk ke dalam kota dengan laju pertumbuhan penduduk yang rendah di Indonesia, tetapi bukan berarti kota ini lepas dari permasalahan kependudukan. Salah satu hal yang memacu laju pertumbuhan penduduk Yogya adalah tingginya para pendatang dari berbagai wilayah untuk menempuh pendidikan di Yogya, yang dampaknya kemudian adalah tingginya kepadatan penduduk di lokasi-lokasi sentra pendidikan diselenggarakan. Di samping jumlah penduduknya yang terus bertambah, Jogja adalah kota kosmopolitan yang menawarkan berjuta mimpi bagi orang luar untuk datang ke Jogja. Kini sekurangnya terdapat 7 gedung bioskop, 17 rumah bilyard, 12 kafe/pub, 38 akademi, 5 institut, 2 politeknik, 18 sekolah tinggi, 15 universitas swasta, 2 universitas negeri, 16 perusahaan taksi, 32 hotel berbintang, 180 hotel Melati, 41 restoran, serta penjaja makanan yang tak terhitung banyaknya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka tidak pelak lagi kota dengan luas 32,50 Km2 ikut terbawa arus perubahan. Perubahan tersebut tidak saja apa yang tampak dari bentuk fisik kota dan masyarakatnya, tetapi juga lebih jauh lagi adalah perubahan sikap dan perilaku masyaraktnya. Bersama perjalanan waktu, Jogja akhirnya menjadi miniatur dunia. Manusia dari berbagai belahan dunia datang ke Jogja lengkap dengan perilaku budayanya dan kebiasaan nya masing-masing. Kisah tentang Jogja, yang buram maupun yang gemilang, silih berganti menyertai perjalanannya.

Kota Pendidikan dan Perubahan Sosial

Sebutan Jogja sebagai Kota Pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses sejarah. Pada tahun 1946 - 1949 Yogyakarta berkedudukan sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia , sehingga aktivitas kenegaraan terkonsentrasi di sini. Hal ini memacu para remaja dari seluruh penjuru nusantara untuk berpartisipasi bagi kemajuan negara yang baru merdeka. Atas dasar kebutuhan yang makin mendesak, maka pemerintah medirikan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai universitas negeri pertama yang lahir pada jaman kemerdekaan. Kemudian diikuti pula dengan berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dan Akademi Musik Indonesia (AMI) (sekarang keduanya digabung menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta) serta Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (sekarang IAIN Sunan Kalijaga). Pada saat ini, bahkan pelajar yang datang tidak saja berasal dari pelosok negeri, melainkan juga dari berbagai negara di dunia.

Beragam manusia dengan latar belakang dan budaya yang berbeda berkumpul di jogja, saling berinteraksi, dan terjadilah apa yang dinamakan akulturasi dari berbagai budaya yang ada ini, selanjutnya proses akulturasi tersebut tentunya memiliki dampak

Semua yang terjadi pada jogja seperti apa yang digambarkan di atas, memiliki konsekuensi, baik itu positif maupun negatif. Salah satu konsekeunsi negatifnya ialah munculnya berbagai masalah. Dalam sebuah analisis nya mengenai reaksi terhadap perubahan sosial yang terjadi di dalam suatu masyarakat, Vago (2004) mengemukakan bahwa terdapat lima kecenderungan yang mengikuti terjadinya perubahan di suatu masyarakat, yaitu:

  1. terjadinya kemunduran dalam masyarakat memandang pentingnya kekeluargaan dan kerabat dalam perannya mengambil keputusan dalam proses relasi sosial.

  2. terjadinya kemunduran pada nilai-nilai tradisional sosial, dan kecenderungan bangkitnya faham-faham sekuler, rasionalisasi, yang termasuk didalamnya: a) meningkatnya pola-pola birokrasi dalam sistem organiasi, b) tumbuhnya standar mekanisme, dan standarisasi dalam sistem kerja. c) timbulnya sekulerisasi, pemisahan antara aturan-aturan sosial dengan nilai-nilai dan kepercayaan spritual, yang akibatnya adalah teradinya degradasi nilai dalam perilaku masyarakat.

  3. perubahan dari homogenitas kepada heterogenitas, yang kemudian akan merujuk kepada diferensiasi sosial yang pada gilirannya meningkatan kebutuhan akan spesialisasi tugas-tugas bagi individual.

  4. meningkatnya mobilitas fisik dan sosial, yang mengakibatkan melonggarnya ikatan di dalam komunitas serta meningkatkan prinsip-prinsip individualistis.

Berbagai masalah yang merujuk kepada mundurnya nilai-nilai moral, dan etika tergambar melalui berbagai kasus-kasus seperti maraknya gaya hidup materelistik yang hedonis, free sex yang semakin digandrungi, dan yang tidak kalah pentingnya ialah kasus penyalahgunaan narkoba. Berikut kita akan simak satu demi satu fenomena tersebut.

Diawali oleh maraknya kasus-kasus hubungan seks pra nikah yang begitu populer di kalangan generasi muda. Bila kita coba tengok sejarah, maka perilaku seks pranikah ini diawali pada sekitar awal tahun 70-an, dimana muncullah istilah kumpul kebo. Sebuah istilah yang menunjuk pada perilaku remaja putra-putri kala itu yang hidup serumah (kost) tanpa ikatan pernikahan. Fenomena yang semula "dikira" hanya rumor oleh sebagian warga, akhirnya menjadi mimpi buruk bagi warga Jogja ketika seorang pelajar SMA SMPP X (sekarang SMU Negeri IX) bernama Eko di tahun 80-an memaparkan penelitiannya tentang kehidupan kumpul kebo di antara kawan-kawannya. Meski belakangan diketahui, dari para pengisi angket yang katanya cuma "iseng" ketika mengisi, toh tak urung mengejutkan para orang tua yang meng-kost-kan anaknya di Jogja. Tetapi kemudian hasil penelitian dari Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan (LSCK) kembali mengejutkan banyak pihak, yaitu bahwa 97,05 persen (dari 1.660 responden) mahasiswa di Yogyakarta tidak perawan, ditambah Banyak kos-kosan yang ada dijadikan tempat ’transit’ pasangan muda-mudi bahkan tak jarang digunakan sebagai tempat untuk melakukan hubungan seks. Ini ditunjukan hasil penelitian dari (LSCK PUSBIH) bahwa 63% responden melakukan kegiatan seks di kos-kosan partner seks prianya. 14% responden mengaku melakukan kegiatan seks di kos-kosan atau kontrakan yang disewakan kesemua hal di atas justru menguatkan image jogja sebagai kota dimana banyak terjadi hubungan seks di luar nikah.

Tahun 90-an muncul fenomena mall. Pola kehidupan masyarakat berubah menjadi cenderung konsumtif. Warga Jogja dan warga pendatang berinteraksi di dalamnya. Para priyayi dan pidak pedarakan tak mau ketinggalan ramai-ramai memahami isyarat zaman modern yang disimbolkan melalui pakaian, kosmetik, makanan dan juga barang elektronik. Pun demikian adanya dengan perilaku manusia Jogja. Yang semula terselubung, akhirnya muncul ke permukaan secara terang-terangan.

Berbagai masalah yang ada di kota Jogja bertambah pelik ketika kita berbicara mengenai maraknya tindakan penyalahgunaan narkoba di Jogjakarta. Pada suatu laporan studi ditunjukan terdapat peningkatan perilaku penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Pada tahun 1999 jumlah kasus yang terungkap ialah 67 kasus dengan jumlah tersangka 93 orang dan 46 di antaranya berstatus sebagai mahasiswa, kemudian intensitannya meningkat di tahun 2001 menjadi 170 kasus dengan jumlah tersangka 199 orang dan 92 di antaranya mahasiswa. Jumlah tersebut meningkat lagi di tahun 2003 menjadi 207 kasus dengan jumlah tersangka 245 orang dan 188 orang di antaranya adalah mahasiswa serta 9 orang pelajar, dan data tahun 2004 (bulan Januari sampai dengan April) sudah terungkap sebanyak 66 kasus dengan jumlah tersangka 74 orang dan 28 di antaranya adalah mahasiswa/pelajar.

Lebih lanjut Seperti apa yang diungkapan oleh Steven Vago, dalam bukunya Social Changes (2004) bahwa dalam melihat adanya suatu perubahan sosial yang terjadi, akan sangat membantu untuk menganalisanya bila kita terlebih dahulu memahami, apa yang berubah (what is changing?), berapa lama proses perubahan itu terjadi, sebab terjadinya perubahan, dan dampak dari perubahan tersebut

Seperti yang sebelumnya disebutkan bahwa, dibandingkan pada masa-masa tahun 1970-1980 Jogjakarta lambat laun mulai berubah, selain memang karena kemajuan di bidang ilmu pengetahuan teknologi, sistim pemerintahan yang lebih terbuka, dan sarana mendapatkan informasi yang lebih terbuka membawa jogja menjadi kota yang metropolis. Jika penulis boleh mengatakan, jogja semakin hari menjadi kota komersil, yang cenderung berkarakter materalistis. Hal ini dapat dilustrasikan dalam suatu kisah berikut, yaitu mengenai tukang becak yang biasa mangkal di Jalan Parangtritis yang masih tetap semangat mengajak penumpangnya untuk berbelanja ke Bakpia Patuk atau belanja kaus Dagadu palsu di Ngasem. Sedemikian semangatnya , sampai-sampai ia menawarkan gratisan becaknya asal penumpangnya mau belanja. Karena memang dapat dipahami bahwa akan ada komisi yang menggiurkan untuk tiap potong dagadu dan satu dus bakpia untuk para tukang becak yang mengantarkan pelanggan untuk berbelanja ke tempat mereka.

Sedemikian tingginya semangat para sebagian tukang becak tersebut dalam mencari "mangsa". Sampai-sampai ada anekdot, nanti tiba saatnya tukang becak yang jadi juragan, dan para penjual kaus maupun bakpia gantian yang menggenjot becak. Masuk akal juga anekdot ini jika untuk sepotong kaus atau satu dus bakpia mereka mendapat 5000-10.000 rupiah. Belum lagi borongan untuk becaknya yang 10.000 rupiah per jam. Rata-rata per hari berksar 100 ribu sampai 200 ribu yang didapat.

Demikian pula sebagian tukang ojek. Dalam mencari penumpang maka kesepakatan awal bukanlah patokan riil yang harus dibayar oleh penumpangnya. Karena siasat memperpanjang waktu dan jarak, adalah juga harga yang harus dibayar oleh penumpang. Begitu juga dengan sopir taksi yang rata-rata tak mau memasang argo meternya. Tarif menjadi sedemikian sumirnya. Karena di luar tarif yang telah disepakati, masih ada tarif "improvisasi" yang besarnya bisa melonjak hingga seratus persen.

Sinergi lintas profesi ini memang amat kental berlangsung di Jogja. Tapi muaranya tetap satu: keuntungan material. Dan demi keuntungan itu, kadang mereka sering abai terhadap norma dan etika. Demikian besarnya pengaruh "humas" tak resmi bagi para penjual kaus, bakpia, gudeg dan batik ini. Sampai-sampai masyarakat tak lagi peduli, mana yang asli mana yang palsu.

Dilihat dari hal-hal yang dapat memicu perubahan ini, sekali lagi seperi apa yang diungkapkan diatas bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, sistem pemerintahan, dan secara lebih luas proses terjadinya globalisasi ikut memberikan sumbangsih terhadap berubahnya Jogja. Kemudahan dalam mengakses informasi dari dunia luar semakin terbuka lebar, berbagai informasi dari beragam latar belakang budaya membuat semakin bervariasi nya perubahan yang terjadi.

Bila kita cermati maka, banyaknya para pengguna narkoba berasal dari kalangan mahasiswa, yang datang dari berbagai pelosok negeri. Ragamnya latar belakang dan perilaku para mahasiswa menunjukan di sana ada dinamika, sebagai inti jiwa masyarakat. Dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar halaman 234, Soerjono Soekanto mengemukakan, perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, Lalu William A. Haviland dalam bukunya Cultural Anthropology juga menegaskan, perubahan budaya bisa terjadi karena adanya persinggungan dengan masyarakat lain yang memperkenalkannya dengan ide asing yang membawa serta perubahan pada tata nilai dan perilaku dan seterusnya yang pada gilirannya dapat memberi dampak positif maupun negatif.

Mungkin sebuah bait dari lagu Jogjakarta, milik Kla Project, kira-kira yang cukup tepat bagaimana jogjakarta dulu, dulu ketika jogja masih lebih santun dan beretika, jogja yang selalu membawa bekas dan kesan kepada siapa saja yang pernah singgah disana. “Pulang kekotamu Ada setangkup haru dalam rindu Masih seperti dulu Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna Terhanyut aku akan nostalgia”.

Kesimpulan

Yogyakarta memang tampaknya tidak bisa menghndarkan diri dari suatu arus perubahan, termasuk apa yang kita saksikan saat ini. Sebetulnya dalam mencermati permaslaha ini maka kita tidak bisa melepaskan diri dari perubahan pola pikir masyarakat dewasa ini secara makro, khususnya di Indonesia. Bahwa pola pikir masyarakat dewasa ini sebagian tampaknya sudah mulai bergeser meninggalkan nilai-nilai dan norma sosial dan moral. Apa yang melandasi peryataan ini? Rasa toleransi yang kebablasan dan pandangan “serba boleh” yang tidak lain merupakan bagian dari agenda globalisasi pemikiran-pemikiran barat yang liberal mulai merasuk ke tubuh masyarakt bangsa ini, contoh yang paling mudah adalah perkembangan dunia media di Indonesia, dengan berbaga dalih kebebasan berkekspresi dan seni, berbagai media lokal mengeksploitasi tubuh-tubuh wanita, belum lagi berita terhangat yaitu akan terbitnya majalah dewasa “playboy” versi Indonesia. Pemikiran-pemikiran liberal yang cenderung materalistis ini juga nampaknya berimbas juga ke dalam dunia pendidikan kita, begitu banyak orangtua rela bersusah-payah supaya agar anak mereka masuk ke universitas-universitas ternama walau terkadang tanpa melalui prosedur yang baik dan benar, pendidikan sekolah tidak lagi dipandang sebagai tempat membina manusia yang berbudi dan berperilaku santun, tetapi hanya sekedar sebagai ajang pecarian prestise dan gelar semata. Sehingga akibatnya anak-anak mereka teradang tidak siap denga kondisi ini, sementara tuntutan orang tua terhadap anak begitu besarnya, maka selanjutnya jangan disalahkan kekita banyak para remaja usia sekolah (sampai perguruan tinggi) banyak mengalami kondisi stressful dan depresi, sementara orang tua kurang perduli, sehingga Narkoba menjadi salah satu alternatif pelampiasa perasaan ini.

Perlu sinergi dan kerja keras banyak pihak untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kondisi ini, perubahan memag akan sulit untuk dilawan, dan akan teru terjadi seiiiring dengan berputarnya waktu, tetapi sekarang bagaimana menjadikan perubahan-perubahan tersebut cenderung ke arah positif.









Daftar Referensi

LSCK PUSBIH. 2002. inilah survei keperawanan di yogyakarta
http://jkt.detik.com/gudangdata/survei_keperawanan/satu.shtml


Sarwono, S. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta:Balai Pustaka.


Vago, S. 2004. Social change. Fifth Edition. New york: Pearson Prentice Hall









Friday, December 09, 2005

A Lesson from the elder

dalam sebuah audiensi dengan Sri Paku Alam IX (Wagub DIY)


Coba tanyakan kepada para generasi muda kita, apa yang terlints di benak mereka ketika kita berikan sederet nama-nama berikut:
1. Sudirman
2. Gatot Subroto
3. Diponegoro
4. Wahid Hasyim
5. Otto Iskandar Dinata
6. Tengku Umar

Mungkin jawaban yang pertama terlintas di benak mereka..
1. "Jalan protokol di jakarta, banyak gedung bertingkat, salah satu jalan yang dilewati busway., atau kemacetan, kepadatan, dan kadang kesesakan, kesan yang timbul di dalam benak kita."

2. "juga jalan protokol di Jakarta, tapi yang paling penting kalo mau ke planet hollywood lewatnya yah lewat gatsu. banyak gedung-gedung modern..."

3. "juga nama jalan, yah deket2 menteng lah..."

4. "wah, kalo yang ini, nama jalan dimana banyak jual asesoris motor.."

5. "banyak rumah-rumah pejabat disitu.."

jawaban di atas mudah-mudahan hanya dijawab oleh sebagian kecil teman2 kita lainnya..tapi kalo kenyataan sekarang...
bukannya mau menjustifikasi, and pretend to be like a holy man, but.. coba fenomena bangsa ini yang udah sedemikian parahnya, mulai dari rakyat kecil, sampai tingkat elit, mulai dari tukang sayur, sampai pejabat departemen, mulai dari anak sekolah sampai artis.....
mungkin saya tidak usah memberikan fakta-fakta di lapangan, yang mungkin orang sudah banyak yang muak dengan apa yang ada disekelilingnya...

satu masukan yang sangat patut dipertimbangkan, ketika saya pada hari kemarin sempat bertemu dengan Sri Paku Alam IX di kepatihan Jogja, beliau katakan, bahwa bangsa ini sudah sedemikian sakitnya, perlu perbaikan dari tingkat yang paling bawah, perlu perbaikan mental memang..dan melibatkan banyak SDM, terutama generasi muda.
satu contoh, ketika saya lihat di TV, mengenai kasus kelaparan di wilayah papua, sunguh sangat ironis, ketika pada saat yang sama pak presiden kita berpidato tentang ketahanan pangan di istana, di luar istana beliau, rakyat merintih karena kelaparan..
oiya mengenai ketahanan pangan, kalo selama ini ketahanan pangan selalu diukur dari satuan kilo ton beras.....kayanya bangsa ini tidak sehomogen itu dalam soal makanan, cobalah tidak semua daerah di Indonesia ini disetarakan mengeani pangan ini, ketahanan pangan tidak selalu harus diukur dari ketersediaan beras yang ada, kan bisa dukur dari makanan pokok wilayah setempat, dengan usah-usaha peningkatan kualitas pangannya...

well, maybe this is only a noneless word from the ordinary guy...


Yogyakarta 10th December 2005

Saturday, December 03, 2005

The Second Beginning



Assalamualikum wr wb
dear all'
Sunday Morning, Jogjakarta, I started to wake up at 5 clock at the morning,( but my alarm Buzz me at 4 clock) last night,well truly i planned to wake up in the early so I can breeze the fresh of air at the morning, (well, i think this only, at the weekend: )) ( besides i can take take read some of pages from the Qur'an after shubuh prayer)
after wash for some my clothes..( did you know, in my "home" at jogja, if u want to dry up your cloth under the sunshine, u should go up to the 3rd floor, and that i outside floor,while theres an open room, so the sun shine can enter to the house,and at the north side of that, its a MERAPI volcao,that u can clearly see..what a ...)
this is the new started for me, to create new blog. hopefully this is become my virtual diary, and express my idea.
hope you enjoy it.

Jogja, 5th december 2005
Yours'


Herdi